| Aksi Protes Mangan Berakhir Ricuh |
|
|
|
| Oleh Bimeks |
| Jumat, 19 Juni 2009 09:27 |
Bima, Tambangnews.com.- Aksi penolakan penambangan mangan di Desa Kawuwu Kecamatan Langgudu, kembali ricuh. Massa Aliansi Mahasiswa dan Kepemudaan Indonesia (Aliansindo) mengusung keranda mayat untuk anggota DPRD Kabupaten Bima. Keranda itu adalah pesan simbolik bahwa ‘nurani wakil rakyat telah mati’. Tidak hanya itu. Rupanya, dalam keranda keranda itu ada pakaian dalam wanita yang disimbolkan sebagai cermin sikap dewan yang “banci” atau tidak tegas. Padahal, mereka menilai kebijakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima soal penambangan itu merugikan rakyat. Sepanjang jalan menuju kantor DPRD Kabupaten Bima, massa menggelar aksi teatrikal sambil mengusung keranda. Beberapa orang dalam kondisi terikat dan dianiaya, mengisyaratkan rakyat yang selalu tertindas akibat kebijakan penguasa yang tidak pro-rakyat. Beberapa saat kemudian, aksi itu kian memanas. Awalnya, hanya aksi dorong ketika mahasiswa mencoba masuk ke kantor Dewan dengan menembus barikade polisi. Meski telah mencoba berkali-kali, namun tidak berhasil. Massa membakar keranda yang diusungnya. Sempat terjadi ketegangan, ketika aparat Kepolisian berusaha memadamkan api. Mahasiswa tidak terima dan berusaha menghalangi. Ketegangan pun kembali terjadi. Mass mahasiswa sempat protes, ketika ada yang mengaku ditendang aparat saat saling dorong. Sebaliknya, polisi juga mengaku ditendang mahasiswa. Situasi tegang terus terjadi selama aksi berlangsung. Karena rencana memasuki kantor Dewan tidak berhasil, massa beralih sasaran. Kali ini, tujuannya kantor Bupati Bima. Di perempatan lampu lalulintas, massa menggelar aksi di tengah jalan. Mereka berusaha memblokade, namun dihalau oleh polisi. Saat massa bergerak menuju kantor Pemkab Bima, tiba-tiba mereka membentuk blokade memanjang menghadang jalan. Keinginan mereka menutup arus lalulintas, kericuhan pun kembali terjadi ketika polisi menghalau. Di depan kantor Pemkab Bima, massa menggelar aksi. Ketegangan sempat terjadi antara seorang anggota polisi dengan mahasiswa. Seorang anggota polisi terpancing emosinya dan meminta namanya dicatat oleh mahasiswa. Pasalnya, massa mengancam melaporkan oknum aparat yang bertindak anarkis terhadap pendemo. Ketua Aliansindo Bima, Burhanudin, mendesak Bupati Bima, H Ferry Zulkarnain, ST, mencabut SK Nomor 527 Tahun 2004 tentang eksploitasi batu mangan di Kawuwu. Apalagi, dalam SK itu dicantumkan masa eksploitasi selama 30 tahun. Katanya, SK Bupati Nomor 417 Ttahun 2004 tanggal 6 Desember 2004 dinilai tidak sesuai dengan lokasi yang diterbitkan oleh Ditjen Pertambangan Umum Depertemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Demikian juga dengan ijin prinsip eksploitasi dari Badan Planologi Depertemen Kehutanan, yaitu pembukaan jalan dan aktifitas penambangan tanpa ijin. Hal itu, katanya, berdasarkan ketentuan Depertemen Kehutanan sesuai pasal 38 ayat 4 UU Nomor 41 tahun 1999 tenteng kehutanan, termasuk Kepmen Nomor 55/KPTS/II/1994 mengenai pinjam-pakai kawasan hutan tidak terdapat dalam kontrak kerja. Burhan juga menilai, areal Kawasan Penambangan (KP) eksploitasi PT Indomining Karya Buana tumpang- tindih. (BE.16) |







Bima, Tambangnews.com.- Aksi penolakan penambangan mangan di Desa Kawuwu Kecamatan Langgudu, kembali ricuh. Massa Aliansi Mahasiswa dan Kepemudaan Indonesia (Aliansindo) mengusung keranda mayat untuk anggota DPRD Kabupaten Bima. Keranda itu adalah pesan simbolik bahwa ‘nurani wakil rakyat telah mati’. 











cvnrlv http://ukcheappharmacy.co.uk/ ...
Welcome to Oakley Sunglasses Outlet S...
> Timer3.Enabled = False link...
Consequently it occurs that the web i...
Mass have not got word totally from t...