Jakarta, Tambangnews.com.- Bersamaan dengan pembukaan Indogas 2011 di JCC, besok (Selasa (25/1)), akan dilakukan penandatanganan kontrak kerja sama (KKS) gas metana batu bara (Coal bed Methane/CBM).
Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita H. Legowo usai acara Business Forum Indogas 2011, mengemukakan, kontrak CBM yang akan ditandatangani itu berjumlah antara 1-3 kontrak. Pihaknya, saat ini sedang menuntaskan pelbagai hal terkait rencana tersebut. KKS CBM yang akan ditandatangani itu, lanjut Evita, bukan merupakan bagian dari 12 WK CBM yang ditawarkan pemerintah pada 30 November 2010. ”WK CBM ini sisa yang lama. Bukan yang kemarin diumumkan,” jelasnya. Hingga saat ini, telah ditandatangani 23 KKS CBM. Paling anyar, 3 KKS CBM ditandatangani pada 3 November 2010 dengan total komitmen pasti 3 kontrak ini senilai US$ 17,05 juta dan bonus tanda tangan US$ 5 juta. Wilayah kerja yang ditandatangani kerja samanya itu adalah Blok GMB Muara Enim I yang dikelola oleh konsorsium PT Pertamina Hulu Energi Metana Sumatera I (PHE Metra I) dan PT Indo Gas Methan (IGM), Blok GMB Muralim yang dikelola oleh konsorsium PT Medco CBM Pendopo dan Dart Energy (Muralim) Pte Ltd dan Blok GMB Tanjung II yang dikelola oleh PT Pertamina Hulu Energi Metan Tanjung II (PT PHE Metan Tanjung II). Pengembangan CBM merupakan salah satu program prioritas pemerintah 2011. Pada tahun ini, ditargetkan dapat ditawarkan 10 WK CBM. Gas dari CBM untuk listrik juga diharapkan dapat terwujud tahun ini dari Blok Sangata 1 dan 2, Blok Banjar 1 dan 2, Blok Pulang Pisau dan Blok Sekayu. CBM adalah gas alam dengan dominan gas metana dan disertai sedikit hidrokarbon lainnya dan gas non-hidrokarbon dalam batu bara hasil dari beberapa proses kimia dan fisika. CBM sama seperti gas alam conventional yang kita kenal saat ini, namun perbedaannya adalah CBM berasosiasi dengan batu bara sebagai source rock dan reservoir-nya. Sedangkan gas alam yang kita kenal, walaupun sebagian ada yang bersumber dari batu bara, diproduksikan dari reservoir pasir, gamping maupun rekahan batuan beku. Hal lain yang membedakan keduanya adalah cara penambangannya di mana reservoir CBM harus direkayasa terlebih dahulu sebelum gasnya dapat diproduksikan. CBM diproduksi dengan cara terlebih dahulu merekayasa batu bara (sebagai reservoir) agar didapatkan cukup ruang sebagai jalan keluar gasnya. Proses rekayasa diawali dengan memproduksi air (dewatering) agar terjadi perubahan kesetimbangan mekanika. Setelah tekanan turun, gas batu bara akan keluar dari matriks batu baranya. Gas metana kemudian akan mengalir melalui rekahan batu bara (cleat) dan akhirnya keluar menuju lobang sumur. Puncak produksi CBM bervariasi antara 2 sampai 7 tahun. Sedangkan periode penurunan produksi (decline) lebih lambat dari gas alam conventional.(Ditjenmigas) |
hsngxrg http://paydayloanslks.com/ pa...
ugpddei http://paydayloanslks.com/ pa...
vqfdcfe http://paydayloanslks.com/ pa...
This statement might be sweeping but ...
Slippers Christian Louboutin Altadama...