| Tolak Tambang Emas, Fasilitas dan Kendaraan Pemerintah Dibakar |
|
|
|
| Oleh Khairul |
| Senin, 14 Februari 2011 21:44 |
Bima, Tambangnews.com, – Tolak rencana eksplorasi tambang di Kecamatan Lambu Kabupaten Bima, warga se Kecamatan setempat Kamis (10/2) siang melakukan unjuk rasa anarkis. Akibat demo tersebut kantor Kecamatan Lambu, Mobil Dinas (Modis) Camat, satu unit mobil pemadaman kebakaran kecamata dan sembilan sepeda motor (3 sepeda motor dinas dan 6 milik pribadi) dilaporkan hangus terbakar.Aksi yang dimulai pukul 09.00 pagi menuntut Kepala Kecamatan (Camat) Lambu, Muhaimin, S.Adm untuk meneken surat pernyataan penolakan terhadap Surat Keputusan (SK) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima melalui SK Bupati Bima Nomor 188 yang mengijikan ekplorasi tambang emas diwilayah tersebut. Sebelum aksi anarkis tersebut, demo ini mendapatkan penjagaan ketat dari aparat keamanan (Polresta Bima, red) walaupun pihak Polres menurunkan dua pleton Brimob tidak membuaskan hasil, namun nyatanya para warga naik pintan dan emosi dengan membawa tumpuan kayu langsung melakukan penyerangan ironisnya bagaikan perkelahian bebas antar warga dan pihak keamanan. Tembakan peringatan oleh pihak kepolisian kearah langit “sama sekali tidak diharaukan oleh pendemo” yang ada malah pihak warga melakukan penyerangan tanda mundur selangkahpun. Akibatnya dua warga Desa Simpasai Kecamatan Lambu yakni Mauludin, A. Nasir dan enam warga lainnya terluka bahkan ada yang kena tembakan senjata dari kepolisian baik peluruh asli maupun peluruh karet, hal ini dilakukan pihak kepolisian karena pendemo melakukan perlawanan dan sengaja merusak kendaraan milik kepolisian. Sebelum kejadian pengrusakan dan pembakaran tersebut, pendemo sempat melakukan negosiasi pada pihak Camat untuk melakukan pertemuan. Secara paksa perwakilan pengunjukrasa dibawah koorlap Supriadin bertemu Camat Muhaimin, pasalnya saat itu pendemo meminta pada Muhaimin untuk mendatangkan Bupati Ferry Zulkarnain untuk dating ditengah-tengah masyarakatnya. Namun hal itu tidak memuaskan hati pendemo, sehingga pertemuan yang berlangsung diruang kantor camat setempat juga dihadiri Plt Distamben, Drs. H. Fathul Arifin, MM dan Camat Lambu dalam tatap muka dengan pendemo menjelaskan melalui henpon seluler “saya sudah menghubung Bupati Bima,” namun jawabnya via sms bahwa Bupati Ferry saat ini (Kamis itu) sedang rapat dengan Gubenur NTB di Mataram, jelas Muhaimin pada pendemo dengan menunjukkan sms dari Bupati tersebut. Mendegar bunyi sms dari Bupati pihak mendemo meminta Muhaimin untuk meneken peryataan tidak setuju (menolak) terhadap SK tersebut, Muhaimin sendiri menjawab “itu bukan hak saya,” ujarnya. Sementara masa pengunjukrasa dari ruang kantor mulai panas, dan langsung melakukan pelemparan dengan batu mengarah diruangan pertemuan yang dijaga ketat kepolisian, tembakan peringatan pertama diletuskan namun dengan tanda letusan itu malah menandadakan awal pergerakan anarkis dimulai. Hingga Senin (14/2) akibat insiden itu pihak kepolisian yang dibantu oleh personil TNI terus melakukan penjagaan di TKP, tentunya diujung aksi tersebut mengakibatkan kerugian yang banyak seperti pembakaran mobil pengangkutan umum untuk pengangkutan warga yang terisolasi (diluar jalur) sangat tidak sesuai sekali, pasalnya banyak warga terisolasi itu tidak bisa lagi menikmati jemputan gratis tersebut. Memang benar tambang emas disetiap daerah membawah dampak positif bagi yang merasa diri untung dan rakyat merasa kebanyakan didaerah yang kena tambang “rakyatnya tidak sejahtera,”. Seperti Ahyar salah satu mahasiswa di salah satu PTS Bima yang juga warga Desa Simpaisai pada wartawan ini Senin (14/2) mengaku, rencana tambang emas di Kecamatan Lambu hingga Kecamatan Langgudu tersebut seperti yang dirinya ketahui bahwa DAM Diwu Moro yang ada di perbatasan Lambu-Langgudu akan ditutup (dikuburkan). “Sudah jelas emas tersebut ada di sekitar DAM Diwu Moro,” secara otomatis DAM Diwu Moro yang merupakan sumber mata air bagi warga Kecamatan Lambu, Kecamatan Sape maupun Kecamatan Langgudu tidak bisa menikmati lagi sumber mata air tersebut untuk menyirami lahan pertanian mereka, warga Kecamatan Lambu 100 porsen petani bawang merah pak Bupati, katanya. Adanya DAM Diwu Moro tersebut merupakan penampungan air bagi petani bawang merah dan pada musim kemarau mendatang air tersebut akan dialiri lewat sungai-sungai untuk dialiri langsung pada lahan pertanian milik warga. Ditutupnya Diwu Moro yang merupakan DAM terluas di Indonesia setelah “DAM Pela Parado” Kecamatan Parado Kabupaten Bima terluas se ASEAN tentunya dengan rencana akan ditutup DAM tersebut Kecamatan Lambu dan sekitarnya akan mengalami bencana banjir bandang yang tidak terkirakan akibatnya, ingat warga ini pada pemerintah sekaligus meminta untuk mempertimbangkan keputusan yang diambil itu. (Khairul) |





Bima, Tambangnews.com, – Tolak rencana eksplorasi tambang di Kecamatan Lambu Kabupaten Bima, warga se Kecamatan setempat Kamis (10/2) siang melakukan unjuk rasa anarkis. Akibat demo tersebut kantor Kecamatan Lambu, Mobil Dinas (Modis) Camat, satu unit mobil pemadaman kebakaran kecamata dan sembilan sepeda motor (3 sepeda motor dinas dan 6 milik pribadi) dilaporkan hangus terbakar.












New speeches essays paper writing cor...
mysnmb http://paydayloanslkc.co.uk/ s...
thank you for sharing!it is good arti...
aelsmkke http://paydayloanslkc.co.uk/...
unahxd http://paydayloanslkc.com/ pay...