| Efisiensi Energi Perlu Dioptimalkan |
|
|
|
| Oleh Administrator |
| Jumat, 07 Oktober 2011 19:40 |
Jakarta, Tambangnews.com.- Konsumsi energi nasional paling banyak diserap untuk industri komersial dan transportasi, sehingga pemakaian energi saat ini diarahkan pada efisiensi dan konservasi energi terutama lingkungan.Menurut Staf Ahli Menristek Bidang Energi, Agus R. Hoetman, dilihat dari situasi statistik pemakaiannya, Indonesia memerlukan pembangkit listrik yang bertenaga besar, seperti PLTU, Batubara, Gas PLTP, dan tidak menutup kemungkinan menggunakan energi nuklir. “Kebanyakan energi listrik diperlukan untuk mensuplai industri di Pulau Jawa, padahal kenyataannya, bahan bakar yang ada di Indonesia terkumpul di Kalimantan dan Sumatera, sehingga harus ada transfer bahan bakar energi dari kedua wilayah tersebut,” kata Agus pada program siaran iptek voice di Kementerian Ristek Jakarta, Jumat (7/10). Setiap pilihan sumber energi, kata dia, memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, seperti penggunaan geothermal kemungkinan belum cukup memenuhi kebutuhan yang ada. Sedangkan batu bara dinilai memerlukan ongkos yang mahal dalam hal transportasi, dan juga dapat merusak lingkungan karena melepaskan emisi CO2 yang tinggi. Sementara energi nuklir lebih rendah melepaskan CO2, tetapi keamanannya harus diperhatikan. “Kemungkinan menggunakan energi nuklir ada, namun dengan catatan harus memperhatikan keselamatan. Nuklir lebih aman dari batu bara dalam hal emisi, karena emisi menyebabkan pemanasan global,” ungkapnya. Ia menambahkan, saat ini pemerintah menargetkan 25 persen dari kebutuhan energi akan disediakan dari energi baru terbarukan. Artinya energi baru terbarukan harus dimaksimalkan, dan pemakaian minyak diminimalkan. Kemudian pembangkit listrik juga harus disesuaikan dengan potensi daerah. Sementara itu, Kepala Balai Besar Teknologi Energi, BPPT, Soni Sulistiawan Wiraman dalam kesempatan tersebut menambahkan, selain besarnya sumber energi listrik, Indonesia memiliki bahan bakar nabati yang banyak karena memiliki bermacam tanaman, seperti sawit yang bisa dijadikan minyak untuk bahan bakar cair transportasi. Selain itu, terdapat 40 jenis tanaman lainnya yang dapat dimanfaatkan, seperti minyak nyamplung, kemiri cina, biji karet dan lain-lain sebagai bahan baku biodiesel, dan tanaman pengganti premium bioethanol seperti singkong, dan tebu. “Bahan nabati tersebut produksinya bisa berlebih dari konsumsi yang ada, disamping pengembangannya terus berjalan dan kebijakan juga mendukung. Hal itu bisa membantu ketahanan energi nasional,” paparnya. (kominfo/rm) |





Jakarta, Tambangnews.com.- Konsumsi energi nasional paling banyak diserap untuk industri komersial dan transportasi, sehingga pemakaian energi saat ini diarahkan pada efisiensi dan konservasi energi terutama lingkungan.











