Rabu, 23 Juli 2014
Home Berita Utama Kapal Peneliti Geomarin III Diluncurkan

Daerah

 
Kapal Peneliti Geomarin III Diluncurkan PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Rabu, 05 Agustus 2009 22:00
Cirebon, Tambangnews.com.- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro Rabu (5/8/), meresmikan pengoperasian Kapal Peneliti Geomarin III. Acara yang berlangsung di Pelabuhan Cirebon ini dihadiri oleh Walikota Cirebon, Komandan Lantamal Cirebon, Syahbandar Pelabuhan Cirebon, Pejabat Eselon I dan II Departemen ESDM dan Pejabat Fungsional Badan Penelitian dan Pengembangan ESDM.

"Kapal peneliti Geomarin III sudah lama dinantikan. Hal ini disebabkan seluruh perairan dangkal di Indonesia telah hampir selesai dipetakan. Sehingga sisanya yaitu sekitar 76% wilayah perairan laut dalam (deep sea) belum dapat dipetakan mengingat masih terbatasnya kemampuan kapal dan fasilitas peralatan survey. Artinya, bahwa bagian laut dalam yang jauh lebih luas, masih belum terjamah pemetaan." jelas Purnomo saat memberikan sambutan

Kapal Peneliti Geomarin III dioperasikan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL) dalam melaksanakan tugas survei dan pemetaan geologi kelautan dalam mendukung sektor Energi dan Sumber Daya Mineral sebagai bagian integral dari pembangunan nasional. Kapal yang dibuat di galangan PT PAL Surabaya ini selanjutnya akan menjadikan Pelabuhan Cirebon sebagai basis operasi.

Kapal Peneliti Geomarin III memiliki panjang 61,70 meter dengan Groos Register Tonnage 1300 GT. Menggunakan mesin 2 x 1000 HP dengan konsumsi bahan bakar 4,8-9,3 ton/hari atau 6040-11600 liter. Geomarin III memiliki kecepatan maksimum 13,5 knot, kecepatan jelajah 12,5 knot, kecepatan survey 4,0 knot dan masa layar (endurance) 30 hari. Kapal ini memiliki 22 Awak Kapal dan mampu membawa Ilmuwan dan Teknisi sebanyak 29 orang.

Kapal Peneliti Geomarin III juga dilengkapi peralatan survei berupa Peralatan Hidrografi yaitu Deep Sea Echosounder 15/200kHz, Sub Bottom Profiler 3.5 kHz, Gyrocompass dan Side Scan Sonar. Peralatan navigasi berupa Differential GPS dan Perangkat lunak navigasi. Laboratorium berupa Stereo Microscope, Peralatan Pembelah Contoh Sedimen dan Crusher. Peralatan Selam berupa Kompresor Udara dan Diving Gear.

Selain itu juga dilengkapi peralatan Geologi dan Geofisika berupa Kompresor Seismik dengan Kapasitas total 370 CFM, Airgun Seismik dengan Kapasitas 4 x 150 cu in, Seismik Digital Multichannel hingga 120 Channel, Sistem Pemrosesan Data Seismik Onborad, Magnetometer dan Pengambil Contoh Sedimen: Dredger dan Gravity/Piston Corer berikut Winch untuk kedalaman 6.000 m.

Saat ini terdapat indikasi pemanfaatan sumber daya energi dan mineral di daratan hampir mencapai titik kulminasi, sehingga di masa mendatang akan bertumpu pada laut sebagai harapan yang terakhir atau sebagai “the last frontier”.

"Kehadiran kapal ini diharapkan dapat mempercepat menyelesaikan program pemetaan dan eksplorasi sumber-sumber daya alam baru untuk dimanfaatkan dan didaya-gunakan demi mensejahterakan masyarakat Indonesia." Ujar Purnomo

Seperti diketahui, bahwa hampir 70% dari cadangan minyak dan gas bumi Indonesia berada pada cekungan-cekungan migas tertier di laut, dan lebih dari separuhnya terletak di laut dalam (kedalaman lebih dalam dari 200 m). Mengacu pada kenyataan ini, maka eksplorasi di laut dalam harus dilaksanakan secepat mungkin agar potensi-potensi sumber daya migas ini dapat diketahui dan dimanfaatkan lebih cepat dan optimal.

Demikian pula dengan potensi berbagai komoditi sumber daya mineral yang terdapat di dasar laut, saat ini belum sepenuhnya dapat dieksplorasi karena keterbatasan sumber daya manusia, fasilitas dan peralatan survey. Padahal perairan Indonesia diyakini masih menyimpan berbagai potensi yang cukup menjanjikan sebagai contoh energi laut (mekanik, potensial, dan perbedaan termperatur) menjadi energi listrik.

Dengan diberlakukannya Hukum Laut Internasional PBB (UNCLOS 1982), maka Indonesia memiliki aset pertambahan wilayah laut nasional yang cukup signifikan. Luas wilayah perairan Indonesia mencapai 5,9 juta km2 termasuk Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), dengan rincian luas kepulauan 2,8 juta km2, luas laut territorial 0,4 km2, serta klaim atas Landas Kontinen di luar 200 mil seluas 3500 km2 di sebelah barat Aceh.

Jumlah pulau sekitar 17.504 terdiri dari pulau besar dan kecil, sedangkan panjang garis pantai pulau-pulau nusantara mencapai 81.290 km lebih yang merupakan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Fakta fisik inilah yang menjadikan Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dan negara maritim terbesar di dunia. Wilayah laut yang sangat luas ini perlu segera diinventarisasi dan dipetakan agar dapat dimanfaatkan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

"kehadiran kapal baru yang canggih ini akan meningkatkan semangat dan motivasi para peneliti di PPPGL dalam menyelesaikan pemetaan geologi kelautan dan inventarisasi sumber daya energi dan mineral di seluruh wilayah perairan Indonesia serta melaksanakan berbagai kajian geologi kelautan guna mempercepat penyelesaian isu-isu nasional, terutama isu-isu kelautan yang berkaitan dengan sektor ESDM." Pungkas Purnomo. (sn02)
 
SocialTwist Tell-a-Friend
 

Gold Price Update

Gas Price Update

Artikel Terkait

Komentar