| Akibat Longsor, Kehati Minta Hasil Kajian Newmont Dipublikasikan |
|
|
|
| Oleh Administrator |
| Jumat, 02 Oktober 2009 06:21 |
SUMBAWA BESAR, Tambangnews.com.- Terkait dengan telah terjadi longsoran di lokasi penambangan tembaga dan emas Batu Hijau PT. Newmont Nusa Tenggara (PTNNT), itu menandakan teguran alam kepada manusia dan kepada koorporasi tambang yang mengelolanya, bahwa kondisi alam di wilayah itu sudah labil, sehingga sudah saatnya kebijakan tambang (eksploitasi PT.NNT) di Batu Hijau untuk dihentikan, meskipun pihak operation PT NNT tetap memaksakan diri untuk tetap melanjutkan eksplitasi dengan kondisi itu, maka secara otomatis, perencanaan tambang PT. NNT berbagai aspek pasti berubah, terutama tata kelola lingkungannya, demikian di sampaikan Ketua Yayasan Keanekaragaman Hayati (Yayasan Kehati) Sumbawa, Agus Salim Nur melalui siaran pers yang diterima media ini."Lokasi longsor dibadan jalan akses pit Batu Hijau berada di tengah-tengah, sehingga apabila akan membuat akses jalan baru, maka secara otomatis, permukaan Pit harus berubah dengan cara di perlebar, hal itu pasti akan merubah tata kelola lingkungan yang pernah di usulkan oleh PT NNT melalui AMDALnya," kata Agus Salim Nur, seraya menambahkan, apabila hal itu terjadi makan PT NNT harus membuat kajian analisi dampak lingkungan di wilayah Batu Hijau, karena pada perinsipnya, didalam lokasi eksplotasi telah terjadi perubahan perencanaan. Bahkan tambahnya, longsor yang terjadi meskipun tidak besar, akan tetapi sangat berdampak pada aktifitas eksploitasi perusahaan merjer Amerika dan Jepang itu di Indonesia, apalagi dalam istimasinya, titik kedalaman yang di keruk adalah berpotensi ekonomi tambang sangat tinggi, dibandingkan dengan material tambang yang di timbun di stokpile yang saat ini dengan terpaksa diproses, sebagai upaya kesinambungan produksi tambang perusahaan itu. Lebih lanjut di jelaskan ketua Yayasan Kehati Sumbawa itu, apa bila mementingkan kehendak perusahaan, maka eksploitasi tetap dilanjutkan, lain halnya apabila melihat kondisi alam di lokasi Pit itu, selain adanya rembesan air di dinding lubang tambang raksasa itu, dengan sistem pembuangan air menggunakan teknologi (mesin penyedot), ditambah lagi dengan pembuatan jalur baru sebagai akses ke dasar Pit, selain memakan waktu, budget juga akan merubah rona lingkungan di sekitar pit. Berdasarkan hal itu ungkap ketua Yayasan Kehati Sumbawa, mengharapkan kepada managemen PT. NNT untuk tidak berspikulasi melanjutkan eksploitasi di Batu Hijau jika penanganan longsor belum jelas. Sementara itu, Koordinator Departemen Advokasi Lingkungan Hidup Yayasan Kehati Sumbawa, Putera Tonang Alamsyah menambahkan, longsoran di lokasi pertambangan secara terbuka di seluruh dunia, memang bukan hal baru, apa lagi luar biasa, akan tetapi seluruh perusahaan pertambangan yang sudah mengalami hal seperti itu, pasti mengakhiri proses eksploitasinya, dan penghentian aktifitas secara permanen pernah terjadi di beberapa daerah pertambangan di Indonesia terutama di wilayah Kalimantan dan di kepulauan Sumatera. " Lain halnya dengan sistem pertambangan terbuka PT. Freeport Indonesia di Papua (Irian Jaya), lokasi pertambangan mereka berada di daerah dataran tinggi, sehingga sistem pembuangan airnya dapat mengunakan trowongan dreanase untuk dibuang ke daerah yang berada di bawahnya, akan tetapi lain hanya dengan kondisi tambang terbuka PT. NNT, justru berada di bawah permukaan air laut, sehingga sistem pembuangan airnya menggunakan mesin penyedot, dan itu sangat rentan bagi dinding Pit," ungkap koordinator Departemen Advokasi Lingkungan Yayasan Kehati itu. Terkait dengan hal itu, diharapkan kepada pemerintah untuk benar-benar mempertimbangkan aspek lingkungan dari aktifitas pertambangan di Batu Hijau, sambil tidak terlalu memikirkan keuntungan atau pendapatan negara dari sektor tambang pasca Divestasi saham PT. NNT dengan pemerintah daerah NTB, Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa. Selain itu, dia meminta kepada manajemen PT. NNT untuk dapat mempublikasikan hasil pengkajian tata kelola lingkungan pasca longsoran terjadi, terutama hasil rancangan pembangunan tambang dalam pembuatan akses jalan pengganti longsoran. (***) |
| LAST_UPDATED2 |







SUMBAWA BESAR, Tambangnews.com.- Terkait dengan telah terjadi longsoran di lokasi penambangan tembaga dan emas Batu Hijau PT. Newmont Nusa Tenggara (PTNNT), itu menandakan teguran alam kepada manusia dan kepada koorporasi tambang yang mengelolanya, bahwa kondisi alam di wilayah itu sudah labil, sehingga sudah saatnya kebijakan tambang (eksploitasi PT.NNT) di Batu Hijau untuk dihentikan, meskipun pihak operation PT NNT tetap memaksakan diri untuk tetap melanjutkan eksplitasi dengan kondisi itu, maka secara otomatis, perencanaan tambang PT. NNT berbagai aspek pasti berubah, terutama tata kelola lingkungannya, demikian di sampaikan Ketua Yayasan Keanekaragaman Hayati (Yayasan Kehati) Sumbawa, Agus Salim Nur melalui siaran pers yang diterima media ini.












you need not envy other link:http://...
BZ-You have link:http://www.barbour-...
Please remember that vintage watches&...
Please remember that vintage watches&...