Jumat, 10 Februari 2012
Home Berita Utama Indonesia Miliki Potensi Kembangkan Energi Alternatif
Indonesia Miliki Potensi Kembangkan Energi Alternatif PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Rabu, 21 April 2010 11:28
Jakarta, Tambangnews.com.– Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan energi alternatif yang sekaligus mendukung lingkungan yang bersih, serta mencegah pemanasan global, antara lain melalui tenaga air, angin, geothermal, biofuel turunan (limbah pertanian, limbah kayu, dan limbah lainnya), etanol biomasa, dan sistem kogenerasi fuel-cell untuk rumah tangga.

           “Untuk tenaga panas bumi atau geothermal, etanol biomasa, dan biofuel turunan kedua, diperlukan rancang bangun sistem rangkaian tertutup untuk mencegah emisi green house gases (GHG) ke atmosfir,” kata Guru Besar dari Universitas Teknologi Toyohashi-Jepang, Prof Dr Satryo Soemantri Brodjonegoro.
            Menurut Prof Soemantri yang juga anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan Ketua Dewan Pakar Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dalam pidato inaugurasi Eco-Teknologi Masa Depan Indonesia di Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, Selasa (20/4), biofuel turunan pertama (langsung dari hasil hutan atau perkebunan) harus dicegah karena berbahaya.
            “Pemanfaatan biofuel turunan pertama harus dicegah karena akan menyebabkan terjadinya emisi GHG atau emisi gas-gas rumah kaca yang lebih besar sebagai akibat dari penggundulan hutan dan perkebunan,” katanya.
            Menurut dia, etanol biomasa dapat diproduksi oleh minimal 120 negara di dunia, sedangkan energi fosil hanya dihasilkan oleh 15 negara, sehingga dengan demikian, ketergantungan energi dapat diminimalkan, dan setiap negara akan mampu melakukan swa-sembada energi.
            Prof Soemantri menambahkan bahwa pemanfaatan tenaga angin lepas pantai (offshore wind farm) mulai dikembangkan untuk mengantisipasi kebutuhan energi yang terus meningkat, serta adanya keterbatasan luasan dan kontur daratan yang ada.
            Kontribusi energi angin di Amerika Serikat saat ini, menurutnya, sekitar satu persen dari kebutuhan listrik nasionalnya, dan diperkirakan pada tahun 2030 kontribusi tersebut akan mencapai 20 persen, yang 20 persen di antaranya akan berasal dari offshore wind farm.
            Dikemukakan juga bahwa rencana pengembangan tenaga angin lepas pantai tersebut akan mencapai 350 MW di AS, dan 1100 MW di Uni Eropa, dengan biaya investasi sebesar 3 juta dollar AS per megawat.
            Sedangkan sinar matahri, katanya, merupakan salah satu favorit para peduli lingkungan, dengan kecenderungan untuk memaksimalkan penggunaan tenaga matahari terus meningkat di berbagai belahan bumi.
            “Namun kendala operasional pemanfaatan tenaga matahari adalah fluktuasi intensitas sinar matahasi yang tajam,” katanya.
            Kendala lain dalam pemanfaatan tenaga matahari adalah pengadaan solar panel, karena satu panel berukuran 1x1,5 m2 dengan kapasitas 1KW/hari membutuhkan 40 kg batu bara untuk proses pembuatannya, padahal 40 kg batu bara mampu menghasilkan energi sebesar 130 KWh.
            Menurut Prof Soemantri, tenaga geothermal menjanjikan prospek yang cerah, dengan konsentrasi CO2 yang dihasilkan mencapai 15 g/kwh, artinya jauh lebih kecil dibanding pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang menghasilkan 742 g/kwh konsentrasi CO2.
            “Biaya produksi instalasi geothermal adalah separuh biaya produksi PLTD. Biaya investasi instalasi geothermal memang tinggi, akan tetapi selanjutnya bebas biaya perawatan,” katanya.
            Menurutnya, Indonesia dengan kekayaan alamnya yang beragam dan dengan posisi strategis di belahan bumi ini mempunyai potensi untuk mengembangkan eco-technology (pemberdayaan masyarakat dan pemberdayaan regional) yang pada akhirnya mampu mennyejahterakan masyarakatnya melalui swa-sembada energi dan optimalisasi pemanfaatan sumberdaya.
            Salah satu bentuk konkrit penerapan eco-technology, katanya, adalah pemanfaatan limbah padat perkebunan dan pertanian yang berbentuk serat (fiber) sebagai penguat material komposit untuk keperluan industri manufaktur.
            “Dengan pemanfaatan itu, maka limbah padat dapat diminimalisasikan, sekaligus meminimalisasikan pencemaran udara akibat polusi dan emisi gas-gas rumah kaca,” katanya.
            Acara inaugurasi itu diselenggarakan oleh AIPI. AIPI mewajibkan Prof Dr Soemantri Brodjonegoro, yang terpilih sebagai anggota baru Komisi Ilmu Rekayasa AIPI, untuk memberikan kuliah inaugurasi, sebagai tradisi AIPI selama ini. Prof Soemantri memberikan judul materi kualiahnya “Eco-Teknologi Masa Depan Indonesia”. (bipnewsroom/T.Gs/ysoel)
SocialTwist Tell-a-Friend
Comments
Add New Search
Anonymous   |223.255.230.xxx |2012-02-02 06:56:36
Oke Broo muka lo jelek dan kayak

Isyam
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
 

Gold Price Update

Gas Price Update

Artikel Terkait

Komentar

 

Berita Terkini

Wamen ESDM Mencak-Mencak di DPD RI 09 Februari 2012, 23.45 Administrator Utama
Wamen ESDM Mencak-Mencak di DPD RI
Stefi: Pengelolaan CSR Berlandaskan Kesepakatan 08 Februari 2012, 22.37 Administrator Utama
Stefi: Pengelolaan CSR Berlandaskan Kesepakatan
PLTU Tanjung Jati B Andalan Pasokan Jawa Tengah 08 Februari 2012, 21.58 Administrator Nasional
PLTU Tanjung Jati B Andalan Pasokan Jawa Tengah
Cost Recovery Shale Gas 100% 08 Februari 2012, 21.56 Administrator Nasional
Cost Recovery Shale Gas 100%
Operasi PLTU Tanjung Jati Unit 4 Momen Tepat Dorong Industri 08 Februari 2012, 21.54 Administrator Nasional
Operasi PLTU Tanjung Jati Unit 4 Momen Tepat Dorong Industri
Presiden SBY Menerima CEO Sumitomo Corporation 08 Februari 2012, 21.49 Administrator Utama
Presiden SBY Menerima CEO Sumitomo Corporation

Berita Terbaru

Last Update:
09-02-2012 16:45
[cached @14:20]