| Energi Baru Terbarukan dari Desa Nipa-nipa |
|
|
|
| Oleh Agus S. Budiawan | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Kamis, 28 Juli 2011 23:02 | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Kelompok Tani Ternak Terbit Terang ini merupakan kelompok yang mendapat bantuan Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air Kementerian Pertanian untuk pembuatan rumah kompos dan Program Ipteks bagi Wilayah Kementerian Pendidikan Nasional, Universitas Hasannudin dan Pemerintah Daerah Kabupaten Bantaeng pada tahun 2010. Jumlah sapi yang diterima dari pemerintah pada tahun 2010 pada pertengahan Juli 2011 telah bertambah menjadi 51 ekor sapi. Sistem bagi hasil dari peternakan sapi ini, menurut Prof.Dr.Ir. Laily Agustina,M.S dari Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin yang mendampingi peserta FlipMas, menggunakan sistem “Tessang” maksudnya anak pertama dimiliki oleh pemilik sapi anak ke dua dimiliki oleh peternak anak ke tiga dimiliki oleh pemilik sapi lagi dan anak ke empat dimiliki oleh peternak. Induk tetap menjadi pemilik ternak. Bisa juga menggunakan sistem bergulir yang dilakukan pemerintah yaitu setiap induk yang diberikan oleh pemerintah harus mengembalikan 2 ekor anak setelah itu induk tersebut akan dimiliki peternak. Disamping pengembangan ternak sapi ini, ada hasil “sampingan” yang ternyata memberikan manfaat besar bagi masyarakat sekitar. Biogas dari kotoran sapi. Kotoran yang berasal kandang sapi dimasukkan kedalam sebuah digester (tempat pengumpul kotoran dan air seni sapi) yang tertutup rapat dan dibuat lubang pipa untuk mengalirkan gas ke tempat yang diinginkan untuk memasak atau penerangan. Bagaimana agar tetangga yang dekat dengan kandang bisa menikmati biogas itu? Agar tetangga bisa menikmati biogas, menurut Prof. Laily Agustina mereka harus membuat kandang koloni dengan jumlah sapi 8-9 ekor. Pemeliharaan harus secara intensif sehingga tersedia faces dan urin sebagai bahan pengisi digester bagi setiap 4 keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan 3 orang anak. Dibutuhkan satu digester sebesar 5 kubik untuk kebutuhan bahan bakar untuk memasak digester harus terisi terus menerus dengan faces dan urin agar biogas terbentuk secara berkelanjutan. Jika tetangga tidak mempunyai sapi, maka harus ada peternak yang mempunyai kandang yang cukup untuk 8 - 10 ekor yang dipelihara secara intensif terisi terus menerus dengan faces dan urin. Bila tetangga mau berbagi pekerjaan mereka dapat mengumpulkan selasah daun daun kering yang dikomposkan dulu baru kemudian dimasukkan kedalam digester. pada prinsipnya bahan pengisi digester berasal dari bahan organik dan faces sapi, ayam dan ternak lainnya, bahkan dapat dari faces manusia walau hingga kini masih ada anggapan tidak digunakan karena berbagai pertimbangan. Usaha yang serius dalam menggunakan kotoran sapi menjadi sumber energi alternatif sudah dimulai. Sebanyak 2628 peternak sapi di Jawa Timur, kini sudah mulai menggunakan energi alternatif melalui biogas yang dibangun skala rumah tangga melalui program Biogas Rumah (BIRU) yang dipelopori oleh organisasi nirlaba asal Belanda, HIVOS. Organisasi nirlaba asal Belanda, HIVOS itu, akan terus mendorong para peternak sapi perah di Jawa Timur mandiri dalam penyediaan energi alternatif. Cara yang ditempuh adalah dengan memfasilitasi para peternak membangun biogas skala rumah tangga melalui Program Biogas Rumah (BIRU). Menurut Wasis, koordinator Program BIRU untuk wilayah Jawa Timur, HIVOS memilih biogas sebagai energi alternatif, karena biaya pembuatannya yang murah dan bahan bakunya banyak tersedia di masyarakat (kompas.com27/7) Saat ini, kata Wasis, sudah ada 2628 peternak sapi di Jawa Timur yang membangun biogas melalui Program BIRU. Program tersebut sebenarnya sudah dimulai sejak November 2009 lalu. "Program BIRU mentargetkan bisa membangun sebanyak 3450 unit biogas di Jawa Timur. Kami optimis target ini terpenuhi karena minat peternak terhadap biogas sangat besar," jelasnya. BIRU katanya, sudah menggandeng lebih dari 15 koperasi sapi perah di 10 kabupaten di Jawa Timur. Koperasi itu antara lain Koperasi SAE Pujon Kabupaten Malang, Setia Kawan Nongkojajar Kabupaten Pasuruan, Sami Mandiri Kecamatan Kasembon Kabupaten Malang, Sri Sedono Kecamatan Ngunut Kabupaten Blitar dan Sapi Jaya Kecamatan Kandangan Kabupaten Kediri. Secara umum pemanfaatan biogas memang masih belum menggembirakan pada hal potensi yang dimiliki bangsa ini cukup besar. M Arif Yudiarto dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi BPPT di Propinsi Bangka Belitung sebagaimana dikutip Kantor Berita Antara, Selasa (26/7) menjelaskan bahwa potensi energi alternatif biogas di Indonesia cukup tinggi. Namun, sulit berkembang karena pemerintah kurang gencar menyosialisasikan kepada masyarakat. Selama ini pemerintah terlalu terpaku mengadakan proyek percontohan teknologi biogas dibanding memberdayakan potensi yang ada di masyarakat.
Menurut M Arif Yudiarto bahan baku biogas seperti kotoran sapi dan sampah organik lainnya bisa menghasilkan energi biogas dengan daya mencapai 1.000 mega watt (MW). Bukan hanya itu, teknologi atau regulasinya sangat sederhana, murah dan ramah lingkungan.Dengan asumsi 12 juta ekor sapi di Indonesia bisa menghasilkan empat juta kubik gas per hari yang juga diperkirakan mampu menghasilkan daya listrik mencapai 500 MW, ditambah bahan baku lainnya sehingga diperkirakan biogas bisa menghasilkan 1.000 MW lebih sehari. Bagaimana pula dengan di Sulawesi Selatan sendiri? Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan akan memanfaatkan kotoran sapi untuk pengembangan biogas. Setidaknya ada 1,76 juta sapi di 27 kabupaten yang kini dikembangkan untuk mendongkrak produksi biogas. " Dari populasi sapi yang ada, setidaknya bisa dihasilkan 500 ribu kubik gas per hari" kata Kepala Bidang Listrik dan Pemanfaatan Energi Dinas Pertambangan dan Sumber Daya Energi Bustanuddin di sebuah seminar di Makassar, Kamis 21 Juli 2011.(tempointeraktif.com/21/7) Menurut Bustanuddin, pengelolaan yang baik akan menghasilkan 1 juta kubik gas per hari. Peternak yang memiliki dua sapi dapat memproduksi 0,5–2 kubik gas per hari. " Nantinya biogas akan dikemas untuk dijual secara komersial," ujarnya. "Saat ini gas masih ditampung di tabung sederhana untuk rumah tangga yang memiliki sapi". Contoh di depan mata sudah ada, langkah berikut adalah kemauan keras dan segera bertindak nyata. Pertimbangan akan makin berkurangnya sumber-sumber energi ataupun bakal makin sulitnya pemerintah pada yang akan datang memberikan subsidi kepada bahan bakar minyak agaknya upaya memanfaatkan potensi alam yang ada ini bisa membantu melakukan penghematan energi. Harga murah dan ramah lingkungan pula. Karena percontohan pemanfaatan teknologi biogas ini sudah ada di banyak tempat maka gilirannya sekarang adalah memberdayakan masyarakat agar mau melakukannya. Bantuan atau subsidi untuk membuat atau membeli peralatan pendukung pengolahan dan proses pembuatannya nampaknya tak terlalu besar jika dibandingkan dengan subsidi Bahan Bakar Minyak yang ternyata banyak dinikmati oleh orang yang mampu.(kominfo)
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||





- Para peserta Temu Nasional Forum Pelayanan Ipteks Nasional, FlipMas, segera mencium aroma kotoran sapi sejak 50 meter dari kandang sapi milik Kelompok Tani Ternak Terbit Terang Desa Nipa-Nipa Kecamatan Pajukukang Kabupaten Bantaeng Provinsi Sulawesi Selatan. Kandang sapi yang memuat lebih 30 ekor sapi nampak tertata rapi dan bersih. Anak-anak sapi yang lucu berlarian tak jauh dari induknya yang terikat di kandang. Di sebelah kiri kandang sapi terdapat bangunan untuk pembuatan kompos.















I buy customized term papers as I don...
Dansko Shoes uses a padding of latex ...
Using the quality materials that Dans...
All Dansko sandals are created from h...
Dansko has long been the name of qual...